
Musibah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, hingga wilayah sekitar Pulau Nias dan sebagian Aceh, kembali membawa duka bagi masyarakat Sumatera. Hujan deras yang turun tanpa jeda selama beberapa hari membuat aliran sungai meluap, tepian tebing runtuh, fasilitas umum rusak parah, serta ratusan warga terpaksa mengungsi. Situasi ini membuat seluruh mata bangsa tertuju pada kondisi di lapangan, termasuk warga Nahdlatul Ulama di berbagai daerah.
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, setiap musibah dipandang sebagai ujian yang mengandung hikmah, bukan sebagai hukuman atau azab bagi masyarakat. Karena itu, para ulama NU sejak dulu mengajarkan agar umat menjaga hati dari prasangka buruk dan menghindari narasi menyalahkan korban. Musibah adalah ruang bagi manusia untuk memperkuat iman, memperbaiki hubungan sosial, serta meningkatkan kepekaan kemanusiaan. Sikap ini pula yang disuarakan NU melalui berbagai tulisan di NU Online, yang senantiasa mengingatkan bahwa menghadapi bencana harus dengan tenang, penuh empati, dan tidak terjebak dalam penyebaran hoaks atau penafsiran emosional yang tidak ilmiah.
Di tengah bencana besar seperti ini, NU mengarahkan warganya untuk mengedepankan keselamatan jiwa. Apa pun bentuk ibadah, aktivitas, atau pekerjaan harus didahulukan aspek keamanannya. Jika pemerintah, BPBD, relawan LPBINU, atau aparat meminta warga mengungsi, maka anjuran itu demi keselamatan dan harus dipatuhi. Prinsip hifdzun nafs atau menjaga jiwa merupakan ajaran yang secara tegas menjadi prioritas dalam fikih NU. Karena itulah, banyak warga NU di sekitar lokasi memilih mengamankan diri, membantu tetangga, serta memastikan kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia berada di tempat yang aman.
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim (LPBINU) dan LAZISNU juga mulai bergerak sejak laporan awal diterima. Relawan NU biasanya turun untuk membantu evakuasi, menyediakan makanan siap konsumsi, membuka posko kesehatan, hingga melakukan pendampingan trauma healing bagi anak-anak. Selain itu, jaringan pesantren di Sumatera Utara yang selamat dari banjir turut menyediakan tempat sementara untuk pengungsi. Semua langkah ini menunjukkan bagaimana NU menjaga tradisi ta’awun atau saling menolong yang sudah menjadi bagian dari jati diri organisasi sejak berdirinya.
Para ulama NU pun memberikan pandangan yang menenangkan. Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, dalam berbagai kesempatan mengingatkan bahwa bencana adalah panggilan kemanusiaan. Ia mengajak masyarakat, khususnya warga NU, untuk membantu tanpa memandang suku, daerah, maupun agama. Sementara itu, para kiai di daerah terdampak meminta masyarakat tetap sabar, tidak panik, menjaga salat selama aman dilakukan, dan selalu mengutamakan keselamatan. Mereka juga mengingatkan pentingnya membaca doa-doa keselamatan seperti Qunut Nazilah, Yasin, serta istighfar sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT.
Di sisi lain, banyak warga NU di daerah lain ikut menunjukkan solidaritas. Melalui media sosial, mereka menggalang bantuan berupa pakaian, obat-obatan, makanan bayi, dan kebutuhan perempuan. Pesantren-pesantren besar turut menyampaikan dukungan moral dan membuka donasi resmi melalui LAZISNU agar bantuan tersalurkan dengan aman dan terorganisasi. Solidaritas ini menjadi bukti bahwa NU bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga jaringan kemanusiaan yang luas dan hidup di akar masyarakat.
Pada akhirnya, musibah banjir di Sumatera menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya warga NU, bahwa hidup selalu menyimpan ujian. Namun, setiap ujian dapat menjadi ruang untuk memperkuat keikhlasan, memperdalam rasa syukur, dan mempererat hubungan sesama manusia. NU mengajarkan keseimbangan antara sabar, tawakal, dan ikhtiar nyata di lapangan. Dalam situasi ini, warga NU diminta tidak berhenti berdoa, tidak lalai menjaga keselamatan, tidak menunda membantu, dan tidak terjebak dalam narasi yang memecah belah.
Selama kita saling menopang, saling menjaga, dan saling menguatkan, maka harapan selalu ada. Musibah boleh datang, tetapi semangat gotong royong dan nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh padam. Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada saudara-saudara kita di Sumatera dan membukakan jalan keselamatan bagi semua yang terdampak.
Editor: Fatma Russy [Media HM Al inaaroh 2]




