
Perpulangan santri selalu menjadi salah satu momen paling dinantikan di lingkungan pesantren. Setelah berbulan-bulan menjalani rutinitas belajar, ibadah, dan kedisiplinan yang ketat, tibalah waktu ketika santri diizinkan kembali ke rumah. Namun perpulangan bukan sekadar “liburan” ia adalah momen yang penuh makna, pendidikan, dan nilai adab yang terus melekat dalam diri setiap santri.
Dalam tradisi pesantren, perpulangan berarti masa di mana santri boleh meninggalkan pondok untuk sementara waktu. Biasanya terjadi setelah:
- Tam-taman (pengecekan kitab)
- Tamrin (ujian kitab atau ujian akhir semester pesantren)
- Mukhafadoh (tes hafalan sesuai kelas Dirosah)
- Hari-hari besar seperti Idul Fitri atau Idul Adha
- Penutupan tahun ajaran
Perpulangan mengajarkan bahwa masa belajar di pesantren dan waktu di rumah adalah dua fase yang sama berharganya. Santri belajar ilmu dan adab di pondok, lalu mengamalkannya di lingkungan keluarga.
Beberapa hari sebelum perpulangan, suasana pesantren berubah menjadi lebih sibuk namun penuh semangat. Para santri:
- Membersihkan kamar dan lingkungan
- Merapikan lemari dan perlengkapan pribadi
- Mengemas pakaian dan buku yang perlu dibawa pulang
- Menyelesaikan administrasi pondok
Meski sibuk, suasananya hangat, penuh tawa, cerita, dan antusiasme menyambut hari kepulangan. Ketika hari perpulangan tiba, para orang tua atau wali berdatangan ke pesantren. Ada rasa haru yang tak bisa disembunyikan:
- Santri melepas rindu yang sudah lama tertahan
- Orang tua bangga melihat perkembangan anaknya
- Pengurus dan ustadz/ustadzah memberikan pesan agar ilmu tetap dijaga
- Perpulangan menjadi pertemuan antara rindu, bahagia, dan syukur.
Walaupun berada di luar pesantren, santri tetap membawa adab yang diajarkan di pondok. Selama masa perpulangan, santri dianjurkan untuk :
- Menjaga ibadah tetap tepat waktu
- Membantu orang tua di rumah
- Menjaga pakaian, tutur kata, dan sikap
- Tidak ikut kegiatan yang menjauh dari adab santri
- Mengulang hafalan dan pelajaran dasar
Dengan begitu, perpulangan menjadi sarana melatih kemandirian dan tanggung jawab di luar lingkungan pesantren.
Setelah masa perpulangan berakhir, santri kembali lagi ke pondok dengan hati yang segar. Mereka membawa:
- Energi dan motivasi baru untuk belajar
- Rasa syukur telah dipertemukan kembali dengan teman dan ustadz/ustadzah
- Kesadaran bahwa perjalanan menuntut ilmu masih panjang
- Bekal pengalaman yang membuat mereka lebih dewasa
Kembalinya santri ke pesantren menandai awal babak baru, bukan akhir dari masa liburan. Perpulangan santri bukan sekadar kepulangan fisik, tetapi perjalanan batin antara rindu dan tanggung jawab. Dari pesantren ke rumah lalu kembali lagi, santri belajar bahwa hidup adalah tentang menjaga adab, memaknai waktu, dan terus memperbaiki diri.
Editor: Fatma Russy [Media HM Al inaaroh 2]




